Biografi Kh Syam'un Abduh, Lc (Pendiri Yayasan Pendidikan Islam Al-Bustaniyah)
Biografi
Kh Syam’un bin Abduh Shomad bin Ardam
Nama
pendirinya adalah Kh Syam’un Abduh, Lc. Ia lahir pada tanggal 04 April tahun
1952 M. di sebuah desa bernama Curug. Mungkin sebagian kita saat mendengar nama
Curug yang tergambar adalah air terjun, tapi faktanya di kampung Curug ini,
tidak ada sama sekali air terjun, tetapi menurut cerita konon katanya dahulu
memang banyak sekali air terjun sebelum terjadinya ledakan gunung api
terdahsyat ke-dua setelah Tambora, yaitu meletusnya gunung induk Krakatau pada
tahun 1883 M.
Nama
sebenarnya Syam’un Abduh adalah Syam’un, sedangkan Abduh diambil dari nama
bapaknya beliau yaitu Abduh Somad. Syam’un merupakan anak ke-dua dari tujuh
bersaudara, sebenarnya 8 bersaudara, tetapi anak pertama laki-laki meninggal
ketika masih sangat kecil. Syam’un lahir di sebuah desa terpencil kala itu,
mungkin di sudut provinsi Banten Jawa Barat (dahulu Banten masih sebuah daerah
bukan provinsi, dan Banten masuk wilayah Jawa Barat). Syam’un tumbuh menjadi
anak yang aktif, bahkan saking aktifnya ketika masih kecil, ia sempat menjadi
penyebab meninggalnya seorang anak, karena sebuah kecelakaan kecil yang
dilakukan mereka saat bermain dan tenryata anak kecil yang meninggal tersebut
adalah kakak laki-laki dari istrinya yang merupakan saudaranya sendiri.
Syam’un
menempuh pendidikan sekolah dasar di kampung halamannya yaitu SD Cipaot, sebuah
sekolah dasar yang paling tua di kampung Curug. Semasa SD Syam’un terkenal jago
dalam pelajaran MTK, dia pandai sekali dalam berhitung. Tidak heran setelah
berkeluarga ketika belanja ke pasar dengan istrinya, saat penjual sedang sibuk
menghitung dengan kalkulator barang yang dibeli Syam’un, Syam’un langsung
menghitungnya sendiri dengan tangannya. Syam’un kecil selain jago MTK, ia juga
sangat menggemari olahraga terutama Sepak Bola. Tidak heran setelah berkeluarga
dan mempunyai anak-anak, Syam’un sesekali menonton bola di TV bersama
anak-anaknya di saat piala Dunia berlangsung.
Setelah
lulus dari sekolah dasar, Syam’un melanjutkan pendidikan sekolah menengah
pertama di MTS Al-Khairiyyah Delingseng. Jarak sekolah tersebut jauh dari
tempat tinggalnya di Curug, karena ketika itu di kampung Curug belum berdiri
sebuah lembaga pendidikan seperti Yayasan Pendidikan Al-Bustaniyah yang ada
sekarang. Ketika MTS ini Syam’un mempunyai kesibukan sampingan yaitu berdagang
gula.
Setelah
lulus MTS Syam’un melanjutkannya di tempat yang sama MA Al-Khairiyyah
Delingseng. Setelah lulus MA, Syam’un
melanjutkan perguruan tinggi di IQ Intititut Al-Qur’an (sekarang IAIB)
milik Prof. Dr Wahab. Melalui beliau inilah Syam’un bisa berangkat ke Mesir.
Setelah Syam’un berkeluarga, anak pertama dan ketiganya ia kuliahkan di
perguruan tinggi milik gurunya tersebut yang sudah sangat berjasa besar kepada
dirinya.
Syam’un
dididik oleh orang tuanya dengan pendidikan yang cukup keras, bahkan bukan
hanya cukup tapi memang dididik keras oleh bapaknya. Pernah suatu ketika
Syam’un tidak memahami pelajaran kitab kuning yang diajarkan bapaknya, seketika
itu bapaknya langsung memukulnya dengan kitab tersebut. Bahkan bapaknya pernah
melarangnya ikut ke masjid, karena Syam’un merengek tanpa henti. kondisi
keluarga Syam’un adalah keluarga yang sederhana, ia bukan turunan saudagar atau
juragan yang ada di desa-desa dan bukan juga turunan dari kyai-kyai besar.
Sering
sekali saat Syam’un akan berangkat sekolah dengan perut yang hanya berbekal Ubi rebus setengah matang. Meski
terkenal nakal, Syam’un juga termasuk seorang pemuda dengan semangat belajar
yang tinggi. Pernah suatu ketika di kampung tersebut mengadakan pelesiran
(piknik) kampung, tapi Syam’un lebih memilih untuk ngingu (ngejaga) kerbau
punya orang di sawah, dengan berbekal buku di tangannya. Dengan kondisi
keluarga Syam’un yang kurang mampu, tapi
masih ada anak-anak yang jahil nakalin Syam’un. Ketika di sekolah tas Syam’un
pernah di isi batu-batu besar oleh teman-temannya dan bahkan sepeda butut milik
bapaknya di kempesin bannya dan itu membuat Syam’un harus berjalan kaki dengan
jarak yang sangat jauh. Saat di perjalanan, Syam’un melepas lelah dengan
berteduh di debuah pohon yang cukup besar. Di sana ia duduk bersandar menatap
sekelilingnya yang sepi, di tengah hari yang sepi itu ia berbicara kepada Tuhan
alam semesta “Ya Allah pohon ini menjadi saksi, bahwa saya
bersungguh-sungguh ingin belajar” kata-kata itu ia lontarkan begitu saja,
di tengah hati yang sedang sedih karena ulah teman-temannya.
Ketika
kecil Syam’un pernah bersandar di pintu pagar rumah orang dan menatapnya
pekat-pekat pemilik rumah yang sedang asyik memakan duren (durian). Kalian
pasti paham apa yang sedang dirasakan Syam’un kala itu, Syam’un ingin durian
tapi orang tua tak mampu untuk membelinya, jadilah dia hanya menatap rumah
tetangga yang sedang asyik makan duren
tersebut. Dan sedihnya lagi saat pemilik rumah tahu bahwa ada anak kecil yang
memperhatikannya, mereka benar-benar
acuh, tidak menawarkan sedikitpun. Tidak heran setelah Allah mewujudkan
cita-cita Syam’un, saat musim durian Syam’un selalu membeli durian dengan
jumlah yang sangat banyak, kemudian makan dengan istri dan anak-anaknya di
rumah dan tak ketinggalan ia mengundang beberapa anak yatim di kampung tersebut
untuk sama-sama bisa menikmati betapa lezatnya buah durian. Masha Allah L
Syam’un
rupanya memang tidak main-main dalam urusan belajar, meski dia nakal karena
jarang sekali masuk sekolah. Tapi tidak sekolahnya Syam’un bukan untuk
bermain-main, dia bahkan selalu belajar kitab kuning, sebut saja kitab nahu
shorof. Selain hafal Qur’an beberapa Juz, kepiawaiannya dalam memahami ilmu
bahasa Arab itulah yang nanti akan mengantarkan ia ke Negeri Musa as. Di tengah
minimnya semangat pemuda di kampung tersebut dalam belajar, tetapi tidak dengan
Syam’un. bahkan demi keinginannya bisa menguasai bahasa Arab, Syam’un selalu
menempelkan kosa kata bahasa Arab di dinding-dinding kamarnya. Dari semangat belajar
inilah, orang tua Syam’un berusaha agar Syam’un bisa sekolah sampai ke
perguruan tinggi.
Saat
awal-awal Syam’un masuk di salah satu perguruan tinggi di kota Serang, saat itu
juga sedang dibuka pendaftaran beasiswa
untuk para mahasiswa yang ingin melanjutkan studi S1 di Al-Azhar, sebuah kampus
tertua di dunia Islam. Siapa yang tidak ingin belajar di Negeri para Nabi,
akhirnya Syam’un dengan kemampuan yang diberikan Allah, ia mampu lolos dalam
ujian beasiswa kuliah di Al-Azhar Mesir. Dari situlah Syam’un berangkat ke
Mesir dan belajar di negeri piramida tersebut. Baru beberapa minggu Syam’un
berada di negeri orang, sebuah kabar duka menghampiri. Bapaknya yang dahulu
mendidiknya dengan luar biasa, telah di panggil Allah untuk berada
dipangkuannya. Tentu yang dirasakan Syam’un saat itu adalah ingin pulang, tapi
lagi-lagi tiket pesawat dari mana, ia bahkan hidup di Mesir dengan uang
beasiswa. Hingga akhirnya Syam’un mengikhlaskan semuanya dengan terus bersabar
dan berdoa agar bapak di tempatkan di sisi Allah di tempat
yang paling baik. Menurut kabar, Syam’un juga mengadakan tahlilan untuk
bapaknya dengan teman-temannya di sana. Perlu diketahui sebelum Syam’un
berangkat ke Mesir, ia sudah menikah dengan salah satu perempuan di kampungnya.
Tetapi jatuh talak, setelah anak satu-satunya mereka yang masih kecil meninggal
karena sakit-sakitan.
Syam’un
memakan waktu lama berada di negeri piramida tersebut, 8 tahun ia di sana
sebelum akhirnya ia pulang ke tanah air. Waktu yang cukup lama itu hanya
Syam’un habiskan belajar sampai jenjang
S1 saja. Sebenarnya Syam’un ingin sekali meneruskan ke jenjang S2,
tetapi hafalan Al-Qur’annya belum memenuhi syarat untuk bisa mendapatkan
beasiswa S2 di Universitas tersebut. Karena kesibukan Syam’un kuliah sambil
bekerja itulah yang banyak menyita waktu sampai akhirnya belum bisa menambah
hafalan yang baru. Setelah lulus, Syam’un masih melanjutkan bekerja, meski
tidak kuliah lagi Syam’un mengisi kegiatan lainnya dengan mengikuti kursus
Bahasa Inggris.
Setelah
8 tahun berlalu Syam’un memutuskan untuk pulang ke tanah air, bahkan katanya
saat pulang buku-bukunya Syam’un banyak yang di buang ke laut karena keberatan
muatan dan sepertinya uang tidak mencukupi untuk itu. setelah pulang di tanah
air Syam’un sempat menikah lagi dengan perempuan Jakarta yang katanya merupakan
anak tokoh agama besar. Tapi Syam’un masih dengan cita-cita yang sama yaitu
membangun sebuah pendidikan di kampung kelahirannya. Mungkin karena tidak
berjodoh, akhirnya Syam’un bercerai dengan perempuan Jakarta tersebut dan
menikah dengan perempuan desa yang masih keponakan dari sepupunya. Dari situlah
perjuangan Syam’un dalam membangun pendidikan di mulai. Jadi Syam’un pernah dua
kali menikah sebelumnya, tapi Allah memberikan jawaban dengan tidak pernah
dikarunia anak dari istri yang sebelumnya. Ketika menikah dengan saudaranya
sendiri, Syam’un langsung dikaruniai anak. Maka dari itu anak pertama ia beri
nama Hayati Syam’un yang artinya hidup. Dari pernikahan Syam’un dan istrinya
yang ke-3 dan terakhir tersebut dikaruniai 7 anak, 4 perempuan dan 3 laki-laki
sama persis dengan keluarga Nabi saw. Anak pertama Hayati Syam’un, kedua
Fakhruddin Syam’un, ketiga Mira Khumairoh Syam’un, keempat Ayu Tsurayya
Syam’un, kelima Fitriyah Syam’un, keenam AR Yamani Syam’un dan si bontot yang
jaraknya paling jauh dengan kakak-kakak nya yaitu M Reza Zamzami Syam’un.
Dengan
orang-orang terdekatnya, Syam’un mendapat banyak dukungan ketika akan membangun
sebuah lembaga pendidikan tapi tidak sedikit juga yang tidak suka dengan usaha
baik yang ingin dilakukan Syam’un. Yayasan Pendidikan Islam Al-Bustaniyah yang
dibangunnya, dulu hanya bermodalkan semen 10 karung, karena memang Syam’un
bukan orang yang lantas menjadi kaya raya setelah pulang dari Mesir, tapi Allah
maha kaya. Itulah prinsip yang selalu Syam’un pegang dalam keinginannya membangun
sebuah lembaga pendidikan dan Allah selalu punya jalan untuk hambanya yang
ingin berbuat baik hingga akhirnya berdirilah sebuah Yayasan pendidikan Islam
Al-Bustaniyah di tanah curug yang gersang sampai sekarang dan seterusnya.
Aaminn
29
tahun Syam’un melalui suka duka bersama istri dan anak-anaknya, hingga akhirnya
pada tahun 2015 tanggal 29 November, Syam’un meninggal di usia yang ke 63 tahun
seperti baginda Nabi saw. Allah merindukan ia untuk kembali ke pangkuannya.
Semoga Allah menerima segala apa yang telah engkau perjuangkan, semoga ini
menjadi ladang amal jariyyah untuk mu dan orang-orang yang terlibat membantu
membangun Yayasan Pendidikan Islam Al-Bustaniyah sampai hari kiamat nanti.
*kisah di atas hanya sekelumit mengenai perjalanan hidupnya, versi lengkap sedang di garap
dalam versi buku bacaan, Insya Allah*
“Ayah
aku akan menulis-mu di perjalanan hidup-ku agar kau tetap hidup di tengah
ramainya dunia”. (Banat Syam'un)
Writers by:
Bani Syam’un


Komentar
Posting Komentar
Memberikan kritik dan saran yang membangkitkan, bukan menjatuhkan.